(Bab Pembuka,Sejarah singkat )
7 September 2025 – pagi itu udara Garut dan ditujukan untuk seluruh alam semesta , lembab, bau asap rokok murahan bercampur dengan aroma gorengan jalanan. Di tengah kerumunan orang yang mengomel tentang harga beras dan minyak goreng, aku melihatnya: perut itu. Sebuah perut buncit, tegang seperti balon siap pecah, menjerit lebih lantang daripada toa masjid atau pengeras suara kampanye. Dari situlah lahir Perutologi, ideologi paling jujur yang pernah dikeluarkan bangsa ini.
Aku menulis ini bukan sebagai sejarawan mulia dengan jas putih rapi, tapi sebagai saksi yang duduk di bangku plastik warung kopi, menyeka keringat dengan koran bekas, dan menyaksikan sejarah muntah di depan mataku. Semua revolusi terdahulu—agama, nasionalisme, komunisme, reformasi—berakhir sama: jadi dagangan untuk perut. Para nabi palsu menjual ayat demi nasi bungkus, para jenderal berteriak Garuda sambil menyembunyikan kontrak proyek, dan para komunis mabuk dialektika sambil rebutan kursi empuk.
Sejarah negeri ini bukan kitab suci, kawan. Ia lebih mirip buku kas warung: siapa makan, siapa ngutang, siapa yang kabur tanpa bayar. Dan Perutologi menuliskan bab pertamanya dengan tinta keringat dan minyak goreng tengik. Ia tidak peduli jargon merah, putih, atau hijau—semua warna akhirnya luntur di meja makan.
Aku melihatnya lahir, bukan di gedung DPR atau aula universitas, tapi di jalanan berdebu, di perut orang-orang yang lapar dan pejabat yang terlalu kenyang. Perutologi tidak berjanji surga atau revolusi proletar—ia hanya menyingkap wajah asli kita: lapar, rakus, dan tanpa malu.
Maka catatlah hari itu, 7 September 2025, sebagai titik nol sejarah baru: hari ketika bangsa ini akhirnya punya ideologi yang tidak pura-pura, tidak munafik, tidak berselimut jargon. Hanya satu hukum: perut dulu, sisanya belakangan.
Perutologi bukan lahir dari teori Marx atau tafsir ulama, bukan pula dari orasi di Senayan—ia lahir dari kenyataan getir bahwa semua ideologi hanyalah perut lapar yang menyamar. Agama dijual untuk nasi kotak, nasionalisme diperdagangkan demi tender jalan tol, komunisme jadi bahan kampanye kosong. Sejarah panjang ini, kalau kau buka lembar demi lembar, tidak lebih dari buku kas warung bangsa: siapa makan, siapa bayar, siapa hutang.
Perlu di ingat bab pemikiran ide dan gagasan bangsa ini demi perut ,demi kekayaan pribadi ,mengamankan keluarga ,mengamankan diri dari kenyamanan cita cita para pendahulu ,ideologi keren agama ,nasionalisme ,komunisme diubah jadi wajah prutologi

0 Komentar